Jumat, 13 April 2012

AFTERLOAD


Definisi

Beban akhir (afterload) adalah  besarnya tegangan yang harus dihasilkan oleh ventrikel selama fase sistole agar mampu membuka katup semilunaris dan memompa darah keluar.

Pengaturan afterload

Pengaturan volume darah yang dikeluarkan oleh ventrikel per detik atau yang dikenal dengan istilah “curah sekuncup” tergantung  dari tiga variabel dibawah ini yaitu
·         Beban awal (preload)
·         Kontraktilitas
·         Beban akhir (afterload)

Pengaturan afterload terutama merupakan fungsi dari tekanan intraventrikuler, ukuran atau radius intraventrikuler dan ketebalan dinding ventrikel. Hubungan antra ketegangan dinding, tekanan, radius dan ketebalan dinding dinyatakan dengan persamaan laplace yang telah disederhanakan:



Ketegangan dinding =
 
                                             tekanan intraventrikuler  x  radius


                                                     Tebal dinding ventrikel




            Persamaan laplace menunjukkan adanya hubungan langsung antara tekanan intraventrikuler,  ukuran ventrikel, dan besar tegangan ventrikel yang harus dibangkitkan untuk memompa darah selama fase sistole. Peningkatan tekanan intraventrikuler atau ukuran intraventrikuler meningkatkan pula tegangan yang harus ditimbulkan oleh ventrikel untuk memompa darah. Misalnya, peningkatan tekanan arteria meningkatkan resistensi terhadap ejeksi ventrikel, karena itu diperlukan peningkatan tekanan intraventrikuler dan tegangan dinding untuk mengatasi resistensi tersebut

            Serupa dengan itu, peningkatan radius atau ukuran ventrikel menyebabkan ventrikel harus mengusahakan lebih banyak tegangsn  selama fase sitole unmtuk membangkitkan tekanan tertentu dan memompa darah. Dengan kata lain sebuah ventrikel yang mengalami dilatasi harus membangkitkan tegangan yang lebih besar dibandingkan dengan ventrikel normal untuk menghasilkan tekanan sistolik yang sama besar.

            Dengan demikian, peningkatan afterload dapat dihasilkan dengan meningkatkan tekanan arteria atau dengan dilatasi ventrikel. Sebaliknya peningkatan afterload yang berlebihan akan berpengaruh pada pengosongan ventrikel, mengurangi curah sekuncup dan akibatnya curah jantung juga menurun

            Menurut persamaan laplace, peningkatan tebal dinding atau hipertropi miokardium akan menurunkan tegangan dinding atau afterload. Dengan kata lain dengan terjadinya hipertropi ventrikel maka tegangan dinding yang harus ditimbulkan untuk membangkitkan tekanan dan pemompaan darah secara proporsional juga akan berkurang disebabkan oleh adanya peningkatan massa otot jantung




Obat yang mempengaruhi afterload


Kebanyakan penderita gagal jantung memeperlihatkan gangguan fungsi sitolik sehingga terapi obat dimaksudkan untuk menghilangkan gejala bendungan sirkulasi dengan :
·         memperbaiki kontraktilitas miokardium
·         mengurangi beban pengisian ventrikel (preload= beban hulu)
·         menurun kan tahanan perifer (afterload=beban hilir)

Oabt yang berperan dalam mengurangi beban hilir adalah obat-obatan golongan vasodilator dimana berperan mengurangi vasokontriksi berlebihan yang mengakibatkan beban kerja jantung bertambah karena resistensi perifer yang meningkat,.

Vasodilator berperan penting dalam mengatasi gagal jantung lebih-lebih yang berhubungan dengan hipertensi, penyakit jantung iskemik, insufisiensi mitral atau aorta dan kardiopati yang menyebabkan bendungan.Efeknya relatif berbeda tergantung dari pembuluh mana yang dipengaruhinya, arteriol (pembuluh resisten) atau venula (pembuluh penampung).

            Areteriodilator terutama mengurangi beban tahan pada aorta sehingga isi sekuncup lebih banyak sedangkan venodilator menyebabkan berkurangnya tekanan pengisian ventrikel kiri sehingga daya tampungnya saat diastol membaik. Ini pula menyebabkan hilangnya gejala bendungan paru  

            Pemilihan vasodilator untuk penderita gagal jantung dilakukan berdasarkan gejala gagal jantung dan parameter hemodinamik yang ada. Pada penderita yang tekanan pengisiannya (filling presure) tinggi sehingga sesak nafas merupakan gejala yang menonjol, venodilator akan membantu mengurangi gejala. Sebaliknya penderita dengan curah jantung yang rendah akan ditandai dengan kelelahan umum (fatique) akan tertolong dengan arteriodilator. Tetapi pada penderita gagal jantung kronis yang kurang responsif terhadap pengobatan biasanya kedua faktor diatas berperan sehingga diperlukan vasodilator yang sekaligus bekerja pada arteriol dan vena.

            Contoh obat yang berfungsi sebagai arteriodilator adalah hidralazin, fentolamin. Sedangkan sebagai venodilator adalah nitrat organik dan yang bekerja seimbang sebagai dilator arteri dan vena adalah pembahambat ACE (seperti kaptopril, enalapril, dan lisinopril),  -bloker serta Na-nitroprusid.


Sumber:

Ganiswarna, et al. 1995. Farmakologi dan Terapi. Edisi 4. Jakarta: Bagian Farmakologi FKUI
Price and Wilson. 1994. Patofisiologi; Konsep Klinik Proses-Proses Penyakit. Edisi 4. Jakarta:EGC

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar